Januari 28, 2021

local project

Seni Indonesia Hari Ini

Urban Art: Produk Kesenian Masyarakat Urban

5 min read

Urban Art
Sumber: truckmagz

localproject.idProduk kesenian masyarakat urban (Urban art) merupakan seni yang seiring dengan perkembangan kota, perkembangan tersebut melahirkan sistem kemasyarakatan yang secara struktur dan kultur berbeda sistem kemasyarakatan pedesaan. Heterogenitas warga kota banyak dipengaruhi oleh faktor geografis sebuah kota. Sebuah kota bukan hanya sebagai sebuah lansekap akan tetapi juga sebagai ruang terbuka yang memungkinkan terjadinya dialektika pada warganya. Faktor ini mengakibatkan kota memiliki karakteristik dan penanda budaya yang berbeda dibandingkan kota dan tempat lainnya seperti desa misalnya. Produk kesenian sebuah kota menjadi lebih kompleks, hal ini yang membedakan produk kesenian yang dihasilkan desa. Produk kesenian desa cenderung lebih homogen, kultur desa lebih melihat benefit of culture dan pengaruh transendentalisme dalam melahirkan produk keseniannya. Produk kesenian kota lahir kondisi yang kompleks (Hausser 1982).

Produk kesenian masyarakat Urban (Urban art)  menggugat pemosisian seni sebagai sesuatu yang konservatif dan syarat dengan nilai keagungan, urban art  menggantikan fungsi seni yang sebelumnya selalu dipandang sebagai sesuatu yang agung, klasik, murni, tinggi, dan tradisional. Berkembang pemikiran tentang nilai-nilai baru menyangkut kesenian, dimana produk kesenian tidak lagi dipandang sebagai objek yang harus dipajang di galeri atau museum, ditonton di ruang opera mau pun dinikmati dalam format klasik. Kondisi politik dan sikap politik yang semakin terbuka mewarnai kebudayaan massa. Kondisi-kondisi tersebut memicu tumbuhnya industri budaya yang melahirkan budaya populer atau budaya pop.

Adorno dan Horkheimer melontarkan gagasan mengenai ”industri budaya” untuk menunjukkan bahwa kebudayaan kini saling berhubungan antara ekonomi politik dan produksi budaya yang dilakukan oleh korporat-korporat. Menurut Adorno dan Horkheimer, produk budaya adalah komoditas yang dihasilkan oleh  industri budaya yang sepertinya  demokratis, individualistis dan beragam, namun kenyataannya adalah otoriter, serba seragam dan sangat terstandarisasikan (Barker, 2009). Industri budaya akan mengubah formasi nilai guna kepada sesuatu yang diproduksi oleh sistem kapitalis, yaitu mendudukkan dan menggunakan konsumen sebagai suatu komoditas. Industrialisasi melahirkan budaya massa, budaya ini menggugat kebenaran absolut pada masa modernisme, dimana pada masa tersebut terjadi pengkotaan seni ke dalam high art dan low art. 

Produk kesenian masyarakat Urban (Urban art) lahir karena adanya kerinduan untuk merespon kreativitas masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dengan segala problematiknya. Oleh karena itu muncul usaha dari sekelompok orang untuk memamerkan dan mendatangkan seni di tengah-tengah masyarakat dengan cara melakukan ‘kebebasan berekspresi’ di ruang publik. Ekspresi yang ditampilkan adalah ekspresi yang memncoba memotret permasalahan-permasalahan yang terjadi dan kerap mendominasi mereka sebagai masyarakat urban. Permasalahan ini mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, dan juga budaya. Melalui media seni dan dilatarbelakangi oleh pertumbuhan dan kapitalisasi kota itu sendiri.Sejatinya, hubungan antara realita, pengalaman, dan ekspresinya bersifat dialogis dan dialektis. Ketika pengalaman (empirik) seseorang coba untuk diekspresikan, artinya dituangkan dalam bentuk atau tingkah laku empirik (terdengar, terlihat, tercecap, terasa, dan terbaui). Maka dari itu, hasil interpretasi subyektif atas realita tersebut akan terlahir atau hadir dalam realita. Sementara itu, ekpresi terstruktur oleh pengalaman, sedangkan pengalaman juga  terstruktur oleh ekspresi.

Respon Atas Permasalahan Kota

Produk kesenian masyarakat Urban (Urban art)  lahir merespon kreativitas masyarakat perkotaan dengan segala masalahnya. Muncul upaya dari sekelompok anggota masyarakat perkotaan untuk memamerkan dan menghadirkan seni di tengah-tengah masyarakat, melalui kebebasan berekspresi di ruang publik melalui media-media yang erat dengan keseharian masyarakat, Termasuk kedalamnya publishing, broadcasting TV, film (Louise 2009). Produk kesenian masyarakat Urban (Urban art)  memangkas hubungan yang berjarak antara publik sebagai apresiator dengan karya seni. Ekspresi yang disajikan merupakan bentuk representasi permasalahan-permasalahan sosial, ekonomi, politik dan budaya yang dihadapi masyarakat perkotaan. Urban art merepresentasikan perbedaan sikap politik, anti kemapanan, vandalisme, dan perlawanan terhadap sistem dominan masyarakat. Bentuk konkret urban art dapat berupa banyak bentuk sepanjang karya tersebut mengusung  spirit dinamika urban. Karya urban art mewujud dalam karya; (a) visual street art ( graffiti, poster, wheat paste), mural,clothing ,komik,lomo photo, (b) performing , seperti street dance, (c) musik. Termasuk kedalamnya adalah elemen lokal seperti lukisan pada bak  truk dan becak.

 

 

Menarik untuk mengamati salah satu bentuk karya urban art yang sangat kental dengan elemen lokal, seperti terlihat pada ukisan di bak truk diatas. Karya ini dilahirkan oleh seniman-seniman tradisional, dengan kemampuan teknis yang minim namun mampu melahirkan karya yang orisinal.Tema yang dipilih sangat beragam dengan ekspresi lugas dan egaliter. Tema dipilih berkaitan erat dengan masalah-masalah di sekitar jalanan. Tema yang paling banyak dipilih adalah tema seksualitas, himpitan kesulitan hidup,relegiusitas, dan perlawanan terhadap keadaan. Karya lukisan ini disamping mempunyai nilai ekspresi dari kreatornya sekaligus penggunanya, juga mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi seandainya dapat dikelola lebih baik. Misalnya saja kendala teknis, bahan baku, dan estetika dapat bisa terkurangi jika mendapat cukup perhatian dan dukungan dari pihak tertentu. Di beberapa negara, potensi yang terdapat pada karya seni ini mendapat cukup perhatian dari pemerintah dan akademisi (Louise. 2009).

Pada akhirnya urban art  berhasil dikomodifikasi oleh komunitasnya sendiri. Bentuk-bentuk kesenian terutama seni mural dan grafiti sekarang terutama di kota Bandung lambat laun berhasil menjadi sesuatu yang mempunyai nilai ekonomis. Banyak para seniman mural dan grafiti yang mengekspresikan ide mereka dengan para pemilik distro atau clothing di Bandung. Para pemilik distro ini memfasilitasi para seniman tersebut dengan menyediakan space/lahan untuk berekspresi. Selain memberikan nilai estetika pada toko, mereka juga ikut memberikan penyaluran terhadap keinginan seniman tersebut untuk berkarya.

Kebersamaan masyarakat di wilayah urban juga melahirkan budaya urban dalam bidang seni tari. Ciri-ciri budaya urban antara lain plural, terbuka, dinamis. Kesenian (tari) di dalam masyarakat urban adalah kesenian yang juga memiliki ciri-ciri tersebut. Di sana hadir kesenian tradisi Indonesia (baik kesenian asli daerah setempat maupun dari luar daerah tersebut), kesenian non tradisi Indonesia (Balet, Tango, Salsa, Walzt, Tap Dance, Hiphop, Breakdance, Capueira, Mandarin, dll), dan kesenian alternatif.

Beragamnya kesenian yang ada merupakan akibat dari keterbukaan masyarakat urban terhadap segala sesuatu. Keterbukaan itu pula yang mendorong munculnya penafsiran-penafsiran baru yang melahirkan kesenian-kesenian alternatif. Kesenian alternatif merupakan kesenian yang menginterpretasikan ulang kesenian-kesenian yang sudah ada, mengolahnya dengan pendekatan dan kreativitas yang berbeda, sehingga melahirkan kesenian yang “baru”.

Tampak bahwa pilihan-pilihan masyarakat urban sangat jelas. Tidak adanya dominasi kesenian tertentu membuahkan ruang kebebasan yang besar untuk menciptakan dan menentukan pilihan-pilihan itu. Pilihan adalah bentuk pernyataan eksplisit mengenai selera dan ekspresi mereka. Dalam konteks tulisan ini, pilihan tersebut adalah pilihan kesenian mereka.

 

Eny Kusumastuti – Urban Art: Produk Kesenian Masyarakat Urban

6 thoughts on “Urban Art: Produk Kesenian Masyarakat Urban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *