Januari 28, 2021

local project

Seni Indonesia Hari Ini

Puisi Chairil Anwar

4 min read

Local Project – Berbicara tentang dunia sastra Indonesia tentu tidak bisa tidak menyebut nama seorang Chairil Anwar. Namaya seolah telah menjadi bagian dari wajah dunia sastra Indonesia itu sendiri. Tak melebihkan. Nyatanya memang karya-karya Chairil Anwar dari dulu hingga sekarang dirasa masih sangat relevan.

Chairil Anwar lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949. Dia dijuluki sebagai “Si Binatang Jalang“, julukan yang diambil dari karyanya yang berjudul “AKU”. Semasa hidupnya, Chairil Anwar telah menulis setidaknya 96 karya sastra, termasuk 70 puisi. Dia dinobatkan sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia oleh H.B. Jassin, bersama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin.

Perjalanan Chairil Anwar

Chairil Anwar mulai benar-benar menggeluti dunia sastra setelah kepindahannya ke Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1940. Pada tahun 1942 Chairil Anwar menerbitkan puisi pertamanya yang berjudul “Nisan”. Karya-karya Chairil Anwar menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

Awal mula perjalanan karir Chairil Anwar sebagai seorang seniman tidaklah mudah. Saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak karya Chairil Anwar yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Oleh karena itu, puisi-puisi Chairil Anwar tercerai berai di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Kegarangan karya-karya Chairil Anwar berbanding terbalik degan kesehatannya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Hingga pada 28 April 1949, Chairil Anwar meninggal di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada usia 27 tahun.

Menurut  A. Teeuw (kritikus sastra Indonesia dari Belanda), Chairil memang telah menyadari bahwa dia akan mati muda. Hal tersebut tersirat dalam tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus. Menjelang akhir hayatnya, Chairil Anwar menggigau. Dia berkali-kali mengucapkan kata,”Tuhanku, Tuhanku…”

Hingga akhir hayatnya, sebagian besar karya-karya Chairil Anwar belum dipublikasikan. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949. Semua karya Chairil Anwar, baik yang asli, modifikasi, hingga yang diduga dijiplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudul Deru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Kunjungi BEBETOYSONLINE – FUN LEARNING FOR KIDS

Puisi Chairil Anwar

Dalam artikel ini, kami akan memilih 5 karya Chairil Anwar yang paling populer. Tentu saja kami tidak mengatakan bahwa karya-karya Chairil Anwar yang lainnya tidaklah populer atau penting. Semua karya Chairil Anwar adalah mutiara yang tak ternilai harganya. Karya seorang maestro yang selalu dikenang oleh setiap generasi ke generasi. Berikut adalah 5 karya pilihan Chairil Anwar:

1. Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar

Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

 

2. Cintaku Jauh Di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut tenang, tapi terasa
aku tidak akan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau kumati, dia mati iseng sendiri.

Chairil Anwar
1946

 

3. Derai-derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil Anwar

1949

 

4. Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
membawaku karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Chairil Anwar

Februari 1943

 

5. Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun  lagi

Chairil Anwar

Maret 1943

 

Localproject.id – Seni Indonesia Hari Ini

1 thought on “Puisi Chairil Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *