November 24, 2020

local project

Seni Indonesia Hari Ini

Perjalanan Wisata Abah Masyhuri dan Istri barunya

5 min read

Hasan Irsyad

localproject.idPesona cantik gadis muda memang beda. Tawa merdunya. Polah manjanya. Ketika dibelai pipi tembemnya, manis senyumnya beda. Ketika dicubit dagu lancipnya, lenguh malu-malunya juga beda. Benar-benar beda dengan wanita yang sudah kelewat matang usia. Dibanding istri pertamanya, …. Ah, tidak usah dibandingkan! Sudah jelas mana yang menang. Lagipula, nenek-nenek itu sudah bukan istri Abah Masyhuri lagi. Tinggal jadi mantan. Abah Masyhuri sudah menceraikannya tiga bulan lalu, sebelum menikah lagi dengan Mila, istri barunya ini.

Yang ini benar-benar masih merah jambu. Usianya dua tiga, terpaut angka tiga dua dengan usia Abah Masyhuri yang beranak dua. Dua anak itu kini punya ibu baru yang nyaris sepantaran dengan mereka. Anak pertama Abah Masyhuri, laki-laki, usianya persis sama dengan Mila. Sedangkan anak keduanya, perempuan, baru lulus SMA, delapan belas usianya. Tapi tidak masalah. Mereka harus bisa menerima. Abah Masyhuri juga yakin anak-anaknya cukup cerdas. Tidak berpandangan sempit seperti kebanyakan orang di luar sana, yang menganggap saru kalau lelaki tua sepertinya menikah lagi dengan perawan muda.

Jauh-jauh hari Abah Masyhuri sudah menasihati mereka. Dia bilang kalau sebaik-baik wanita adalah pada masa mudanya, sedangkan sebaik-baik lelaki adalah pada masa tuanya. Ada penjelasannya dia bicara.

Wanita muda masih cantik wajahnya dan subur rahimnya, sehingga bisa memberikan banyak keturunan bagi suaminya. Ditambah lagi, wanita muda biasanya masih manut. Beda ketika sudah tua. Wanita tua bukan cuma jadi keriput mukanya, tapi juga mandul rahimnya, serta makin cerewet lidahnya.

Kasusnya terbalik untuk laki-laki. Semakin tua, laki-laki justru semakin panjang pemikirannya. Semakin bijaksana. Ditambah lagi, khusus untuk Abah Masyhuri sendiri, semakin tua dirinya semakin banyak harta. Semakin kaya. Usaha bengkel mobil dan toko bangunannya semakin moncer dan buka cabang di mana-mana. Maka, sudah sepantasnya di usia tua yang kaya raya ini Abah Masyhuri bersanding dengan wanita muda yang semakin cantik wajahnya.

“Derajat wanita ditentukan dari kecantikannya, sedangkan derajat laki-laki ditentukan dari kekayaannya,” begitu kata Abah Masyhuri, menukil perkataan bijak orang lama yang menurutnya masih relevan sampai era kini.

Jadi, artinya dia dengan Mila itu sebenarnya sederajat dan layak untuk hidup bersama, tidak peduli meski mereka beda usia, juga beda tingkat ekonominya.

Anak pertama Abah Masyhuri lebih mudah mengerti nasihat seperti itu. Mungkin karena mereka sesama laki-laki. Meskipun sebenarnya, di awal-awal, Antok—nama anak itu—justru yang paling sewot ketika tahu Abah Masyhuri berniat menikahi Mila.

Mila memang gadis kembang desa. Banyak yang naksir dia. Kalau tengah berjalan melewati warung kopi yang dipenuhi lelaki, pasti ramai yang menggoda. Termasuk Antok, anak pertama Abah Masyhuri itu. Dia salah satu pemuda yang paling suka mengumbar sapaan genit pada si kembang desa.

Tapi itu dulu! Sekarang Antok sudah mengerti kalau wajar bahwa tidak ada lelaki yang bisa menolak seorang gadis cantik seperti Mila, begitu pun seorang wanita sudah pasti tidak akan bisa menolak seorang pria kaya seperti Abah Masyhuri.

Di masa depan, Antok juga akan jadi pria kaya karena mewarisi kekayaan dari Abahnya. Karena itu Abah Masyhuri menasihati Antok supaya dia tenang saja.

“Nanti akan tiba waktunya buat kamu bisa menikahi gadis cantik manapun yang kamu mau,” katanya. “Kalau sudah begitu, tidak peduli banyak laki-laki lain yang cemburu dan patah hati, dia akan jadi istrimu. Karena menang kamu. Kamu bisa menafkahi dengan lebih baik daripada orang lain. Tapi itu nanti! Dua—tiga tahun lagi, lah! Kuliahmu selesaikan dulu!”

Tidak perlu Abah Masyhuri tambahkan pula soal kalau Antok mau dia juga bisa punya dua atau tiga istri. Jelas Abah Masyhuri tidak akan melarang kalau Antok nanti mau menikah lebih dari satu kali.

Anak keduanya, yang perempuan, lebih sulit dibuat paham.

Lendah—nama anak itu—malah sempat minggat. Dua minggu dia tak pulang, lebih memilih tinggal bersama umminya di rumah kakek-neneknya. Dia cuma mau kiriman uang saku saja, tiga hari sekali. Itupun tak mau mengambil ke rumah, hanya mengirim pesan WA supaya uang sakunya ditransfer via rekening saja.

Awalnya Abah Masyhuri menuruti kemauan anak itu. Tapi lama-lama dia kesal juga. Lalu dia mengancam: kalau Lendah tidak pulang, tidak akan diberi uang saku. Maka menurutlah anak bengal itu. Setelah pulang Abah Masyhuri menceramahi Lendah panjang lebar dengan dalil macam-macam. Mulai dari pepatah yang diselewengkan, sampai ayat-ayat suci yang ditafsir seenak mulutnya sendiri.

Abah Masyhuri juga sempat bilang, “Bukan Abah yang mau pisah dengan Ummi. Ummi saja yang ngotot minta cerai. Abah menikah dengan Mila juga bukan gara-gara nafsu. Pikirmu Abah ini mata keranjang? Abah sebagai orang yang berada ingin mengangkat ekonomi keluarga Mila. Caranya dengan menikahi dia.”

Ngomongnya sih seperti itu.

Tapi, memang ada benarnya yang Abah Masyhuri omongkan. Faktanya, semula tingkat ekonomi keluarga Mila memang ala kadarnya. Kehidupan mereka ditopang toko kecil di rumah mereka yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, shampo, sikat gigi, dan sejenisnya. Baru-baru ini Abah Masyhuri memodali mereka untuk mengubah toko kecil itu menjadi sebuah minimarket. Yang ada mesin kasirnya, yang ada ACnya, dan bersih berkilat lantainya. Meskipun tidak serta merta jadi ramai pembelinya.

Entah dari dalam hati anak itu sudah menerima atau tidak dengan penjelasan Abah Masyhuri. Tapi setidaknya Lendah tidak membantah lagi, juga tidak kabur ke rumah kakek-neneknya lagi.

Dengan begitu, Abah Masyhuri sudah bisa menikah dengan tenang, yang sudah dia lakukan tadi pagi. Lalu, dia bisa menggelar resepsi dengan tenang, yang juga sudah dia selesaikan sore tadi. Pada pernikahannya yang kedua ini dia tidak perlu pesta tiga hari tiga malam seperti pernikahan pertamanya dulu. Laki-laki berusia lima puluhan seperti dirinya sudah malas duduk lama-lama di kursi pelaminan. Nah, sekarang tinggal sisanya. Saatnya prosesi malam pertama yang sudah bisa dia jalankan dengan tenang juga.

Mila, istri barunya, sudah teronggok pasrah pada tempatnya. Masih mengenakan baju pengantin, tapi sudah dan perlahan-lahan semakin acak-acakan letaknya. Kelanjutannya, bisa diibaratkan Abah Masyhuri mengeluarkan “bus mini” andalannya dari garasi, untuk sama-sama dikendarai menuju tempat wisata kepengantinan.

Tapi, sebagai pengemudi tua, Abah Masyhuri sudah pandai mengemudi dengan penuh kesabaran. Dia mengajak Mila untuk terlebih dulu menikmati pemandangan, naik turun gunung, lalu menyusuri lembah untuk menghirup udara sugar. Setelah puas, baru dia lajukan bus mininya memasuki terowongan.

Tapi di tengah jalan menyusuri terowongan, mendadak Abah Masyhuri merasa heran. Kok rasanya jalan yang dia lalui ini mulus amat. Licin teraspal. Padahal ekspektasinya ingin mengemudi di atas jalan rintisan yang masih penuh lumpur dan batu. Roda bus mininya tidak terasa menyangkut apa-apa, tidak menabrak apa-apa. Seperti lewat jalan tol saja.

Sambil tetap memegang kemudi, dia melongo, menatap wajah istri barunya. Benaknya jadi teringat sejumlah nominal yang dia gunakan untuk membangun minimarket mertuanya. Beberapa ratus juta, lah!

Kok rasanya mahal benar untuk sekedar membeli terowongan bekas seperti ini!

 

Karya: Hasan ID

1 thought on “Perjalanan Wisata Abah Masyhuri dan Istri barunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *