Maret 2, 2021

local project

Seni Indonesia Hari Ini

Beauty dan Anti-Beauty

3 min read

Komeng

“these people are not pretty. It’s not a pretty scene but it’s beautiful…

beauty speaks for itself.”

Van Gogh

 

visuarekan.istts – Keindahan adalah sebuah pola dari satu kesepakatan, personal, maupun komunal. Walau ia juga adalah sisi subjektifitas dari interpretasi manusia, yang mengikat mereka dengan ingatan akan satu tragedi yang menjeratnya. Ada sebuah susunan yang akhirnya dibuat manusia untuk membicarakannya, mengutarakannya; dalam kata, visual, dan gerak, yang berimbas pada subjektifitas tersebut. Keindahan akan selalu mengakar pada hakekat perenungan masing-masing. Ia menjelajahi alam kesadaran manusia untuk bisa menyentuh titik intuisinya. Namun begitupun, keindahan itu sendiri bukanlah sekadar rasa saja, interpretasinya dipicu oleh wujud atau penampakannya sendiri. Banyak seniman yang terjebak pada konsepsi romantisme ini, bahwa bentuk sebuah karya seni adalah perihal keindahan saja. Mereka yang memperhatikan betul bagaimana keindahan mampu merepresentasikan dirinya sesuai dengan pola dan harapan masyarakat saat itu sungguh terlihat jelas. Fungsi seni sebagai penyampai makna-makna atau sarana kebajikan untuk disuarakan menjadi formula yang diulangi pada era-era romantisme. Hal ini kemudian berpengaruh pada bagaimana bentuk yang hadir bukan lagi sebagai bentuk yang bertolak dengan masyarakat itu sendiri, atau zaman di mana karya tersebut dihadirkan. Sebab di dalamnya, ada makna yang berusaha disampaikan sehingga penolakan yang timbul dari tolak ukur standarisasi masyarakat bukanlah suatu hal yang baik.

Dalam perkembangannya seni selalu merepresentasikan zaman, dan fungsinya sebagai suatu kacamata masyarakat terutama seniman itu sendiri, yang berubah ketika dunia dipenuhi dengan kehancuran. Perubahan pandangan yang dihasilkannya, dan hidupnya budaya konsumtif masyarakat modern kini membuat obsesi terhadap keindahan justru semakin candu namun juga semakin hampa. Di sisi lain, secara ironis mengilhami bagaimana seni mengonsepkan kembali keluluh lantak-an harapan, dan wujud masyarakat yang sakit, sebagaimana wujud ketamakan manusia tadi menghancurkan segala mimpi-mimpi yang dibangun seperti pada masa romantisme. Di sinilah munculnya gerakan perlawanan terhadap estetika guna menemukan bentuk baru yang mampu mengonsepkan estetika itu sendiri sebagai suatu yang nyata, yang hidup, dan bahkan bila perlu seniman tidak lagi boleh ikut campur terhadap pemaknaan karyanya. Yang artinya: karya itu memiliki daya hidup atas kehendaknya sendiri. Bukan sebagai budak dari harapan-harapan utopis generasi itu lagi.

Komeng 2

Sehingga bila sebelumnya karya dan bentuknya yang indah merupakan perwujudan dari konsepsi masyarakat terhadap indah itu sendiri. Pada masa setelah perang, hal ini berubah menjadi konsep keindahan yang lebih personal dan ironis. Dua hal yang akan selalu dibenturkan untuk menghadirkan keindahan yang lebih realistis kepada dunia itu sendiri. Mediasi medium untuk menyentuh hal-hal personal selalu akan menghadirkan juxtapose antara realitas yang dihadapinya. Kehadiran seni bukan lagi dimaknai sebagai sesuatu yang eksklusif namun sebagai suatu eksperimentasi yang menghadirkan fluidasi antara audience/masyarakat terhadapnya. Sehingga seni bukanlah seni atau wujud ide dari seniman saja, ia merupakan ruang waktu pergolakan zaman, namun bersamaan dengan itu juga bukan bagian dari zaman tersebut. Ia menolak konsepsi untuk terus menemukan konsepsi baru tentang dunia, dan harapan-harapan ironis antara realitas dan mimpi utopis generasi sekarang, dan selanjutnya yang tiada henti.

Festival-pameran VISUAREKAN (tema tahun lalu; Form, Shape, adalah Bentuk) dibentuk oleh Sito Fossy Biosa, M. Sn (dosen DKV ISTTS) demi mengkawinsilangkan ragam bentuk seni dan teknologi di kota Surabaya melalui spirit New Media Art sekaligus merayakan eksistensi World Day of Audiovisual Heritage tiap tanggal 27 Oktober, guna memberi pemahaman bahwa dekade ini peradaban seni tidak dapat lepas dari penciptaan-penciptaan terkhusus berbasis teknologi, maka tanggal 25-27 Oktober mendatang, kami akan siap menyelenggarakan  acara penting VISUAREKAN VOL. 2 dengan tema Beauty dan Anti-Beauty untuk melupakan pandemi 2020 yang sudah merusak keindahan bersama “si cantik”.

Kurator untuk tahun ini adalah Sito Fossy Biosa & D.N. Mukti.

 

PROFIL PENULIS :

andika wahyu

 

Andika Wahyu Adi Putra lahir di Klaten, Jawa Tengah, 22 Juli 1998. Seorang seniman kontemporer, sutradara film, penulis, kritikus film, hingga aktivis. Mahasiswa Jogja Film Academy ini memiliki karya yang dipamerkan di dalam maupun luar negeri meliputi Indonesia, China, Cyprus, hingga South Africa. Kini ia menjadi Co Founder LOSTE production. (Instagram : @andika_w.a.p)

 

 

 

sito fossy biosa

 

Sito Fossy Biosa lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 31 Juli 1991. Ia adalah sutradara film, seniman visual, penulis, performance artist, dan dosen seni yang lulus dari Institut Seni Indonesia Surakarta, jurusan S1 Film & Televisi dan S2 Penciptaan Seni Videografi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia merupakan founder rumah produksi film, video, dan new media art LOSTE Production. Ia juga berpartisipasi dalam banyak pameran seni dan residensi seni internasional. Beberapa karyanya terutama film telah diputar di festival dalam dan luar negeri. (Instagram : @losteproduction & @sitofossybiosa)

 

 

3 thoughts on “Beauty dan Anti-Beauty

Comments are closed.